Nalar Ilmiah (Nalari) kali ini membahas mengenai “Statistika Uji R”. Pembahasan terkait materi ini dipaparkan oleh pembicara kita, yaitu Septiani, S.Pd. Kegiatan Nalari ini dilaksanakan pada Jum’at, 25 Mei 2018 bertempat di sekretariat KPM UNJ R.106. Kegiatan ini dihadiri oleh 20 orang yang terdiri dari pengurus maupun anggota KPM itu sendiri. Kegiatan ini dimulai pada pukul 16.00 WIB dan selesai pukul 18.00 WIB.

Pertama-tama kegiatan ini dibuka oleh Fahrul Kurniawan, APMP selaku moderator. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi mengenai “Statistika Uji R” yang disampaikan oleh saudari Septiani, S.Pd.

Uji R atau uji korelasi digunakan untuk mempelajari hubungan antara dua variabel atau lebih. Hubungan yang dipelajari adalah hubungan yang linier atau garis lurus. Oleh karena itu, uji R ini sering disebut juga uji korelasi linier. Bila hubungan dua variabel yang sedang dipelajari tidak linier, maka uji ini tidak cocok untuk dipakai, sehingga harus dicari uji lain, seperti uji kuadratik atau uji nonlinier. Perlu dipahami juga bahwa uji korelasi ini hanya dipakai untuk variabel kuantitatif. Artinya, uji ini baru bisa dipakai bila variabel yang sedang dipelajari itu keduanya adalah variabel kuantitatif. Bila tidak, maka uji lain seperti uji χ2 harus dipilih.

Ada dua jenis uji korelasi, yaitu Korelasi Pearson dan Korelasi Spearman. Bila data berdistribusi normal atau mendekati normal, maka Korelasi Pearson menjadi pilihan, tetapi bila distribusi data sangat ekstrem (tidak normal), maka Korelasi Spearman yang menjadi pilihan. Ukuran korelasi disebut koefisien korelasi, disingkat dengan r. Nilai r berkisar antara –1 sampai +1, termasuk 0. Semakin besar nilai r (mendekati angka 1), maka semakin erat hubungan kedua variabel tersebut. Sebaliknya, semakin kecil nilai korelasi (mendekati angka 0), maka semakin lemah hubungan kedua variabel tersebut. Perlu diketahui bahwa kendatipun nilai r besar, menunjukkan ada hubungan yang erat, tetapi kita tidak dapat serta merta menyatakan bahwa hubungan yang terjadi adalah hubungan sebab-akibat antara dua variabel tersebut. Nilai r ini bisa bertanda positif, tetapi juga bisa negatif.

Berikut adalah interpretasi dari tanda pada koefisien korelasi.
1. Jika nilai r = + (positif), maka hubungannya adalah berbanding lurus. Artinya, semakin besar nilai variabel X, maka semakin besar pula nilai variabel Y atau semakin kecil nilai variabel X maka semakin kecil pula nilai variabel Y .
2. Jika nilai r = – (negatif) maka hubungannya adalah berbanding terbalik. Artinya semakin besar nilai variabel X , maka semakin kecil nilai variabel Y atau semakin kecil nilai variabel X, maka semakin besar nilai variabel Y.
3. Jika nilai r = 0, artinya tidak ada hubungan sama sekali antara variabel X dan variabel Y.

Kemudian peserta dapat menanyakan materi yang telah disampaikan tersebut apabila kurang mengerti, setelah itu pemateri akan menjelaskan kembali terkait pertanyaan tersebut. Kegiatan Nalari ini ditutup oleh moderator dan diakhiri dengan buka puasa bersama.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.